Ketua MUI Pesawaran: Ramadan Di Tengah Covid-19 Agar Kita Lebih Bersyukur

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pesawaran KH Endang Zainal Khaidir/Ist
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pesawaran KH Endang Zainal Khaidir/Ist

Masih sama dengan tahun lalu, Ramadan tahun ini dijalani di tengah pandemi Covid-19. Hal ini tentunya membuat makna Ramadan berbeda dari biasanya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pesawaran KH Endang Zainal Khaidir memaknai sisi positifnya Ramadan di tengah pandemi, agar lebih bersyukur kepada Allah SWT. 

"Saya memaknai Ramadan kali ini untuk lebih bersyukur kepada Allah dan mengambil sisi positif dari aturan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah. Contoh ketika salat tarawih kita harus menggunakan masker, tidak hanya menutup mulut saja kita juga harus menutup hati kita, gimana ibadah kita mau diterima kalau mulut kita masih menggunjing orang lain,” ujar Endang Khaidir, Jumat (16/4).

Yang kedua, aturan membawa sajadah masing-masing saat beribadah di masjid, karena karpet atau sajadah masjid yang harus digulung dan tidak boleh dipakai saat pandemi. 

"Saya memaknai aturan ini dengan bijak, mungkin selama ini karpet tidak pernah dicuci dengan ada larangan tersebut masyarakat tersentuh untuk mencuci karpet, itu kan demi kebersihan juga,” tambahnya.

Kemudian, penyemprotan yang biasanya hanya untuk tanaman, di masa pandemi saat ini manusia juga disemprot dengan cairan disinfektan menurutnya, hal tersebut adalah gambaran kehidupan.

“Penyemprotan disinfektan kepada manusia itu juga sebagai gambaran kehidupan bahwasanya manusia juga harus dibersihkan dari sifat iri dengki sombong dan angkuh,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan aturan untuk menjaga jarak dari pemerintah juga harus dimaknai dengan positif. 

“Kalau pemerintah melarang kita untuk menjaga jarak, Allah SWT juga menyuruh kita untuk menjaga jarak dari perbuatan dosa,” tuturnya.